Tampilkan postingan dengan label FOTOGRAFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FOTOGRAFI. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2013

SEPUTAR MODE MANUAL KAMERA

Teknik Fotografi - Mode manual bisa dikatakan sebuah mode yang mirip dengan Aperture Priority dan Shutter Priority, tetapi tidak seperti kedua mode semi otomatis tersebut, Sobat harus mengatur baik itu kecepetan shutter (shutter speed) dan aperture dengan tangan kalian sendiri.

Mode Dial PopArt ;)
Photo: arsami
Kamera pada mode Manual tidak akan membuat sebuah perubahan pengaturan secara otomatis, Sobat masih tetap dipandu oleh sistem metering kamera untuk mendapatkan exposure terbaik. Parameter pengaturan lainnya seperti fokus, white balance serta ISO bisa diset secara otomatis jika Sobat menginginkannya.

 

Bagaimana sebenarnya mode manual ini bekerja?

Ketika menggunakan mode manual, Sobat harus menentukan apa yang menjadi prioritas kalian agar mendapatkan foto yang Sobat inginkan: Depth of Field (bagian frame yang terfokus) atau durasi exposure (bagaimana gerakan terekam dalam foto). Jika Sobat telah memiliki prioritas ini maka kalian akan dengan mudah menentukan parameter apa yang harus diatur terlebih dahulu. Apakah shutter speed atau aperture!

Jika Sobat merasa Depth of Field adalah hal terpenting dalam foto, maka Sobat bisa mengatur aperture terlebih dahulu. Sebagai contoh: saat memotret landscape (dimana depth of field luas sangat diperlukan) atau foto Portrait (dimana depth of field sempit akan memberikan nuansa blur pada background).

Aperture kecil (seperti: f/16 dan f/22) akan meningkatkan depth of field, dan sebaliknya aperture lebar (seperti: f/2.8 dan f/4) akan mengurangi tingkat depth of field. Jika durasi atau rentang waktu exposure menjadi hal penting dalam foto, maka pilihlah shutter speed terlebih dahulu. Shutter speed cepat (seperti 1/1000 detik) bisa sangat membantu mem-freeze atau membekukan sebuah obyek yang bergerak cepat, sedangkan shutter speed lambat (1/10 detik) akan mengakibatkan blur.

 

Ok, Jadi apa langkah selanjutnya?

Setelah Sobat mengatur parameter awal, baik itu shutter speed atau aperture, maka sekarang saatnya Sobat set yang lainnya (jika parameter awal adalah aperture maka sekarang set shutter speed dan juga sebaliknya). Meskipun kombinasi yang tepat akan berubah menurut situasi dan kondisi pencahayaan, prinsipnya masih tetap sama: aperture kecil mengijinkan sedikit cahaya untuk masuk sehingga membutuhkan shutter speed yang lebih lambat untuk mendapatkan exposure, sedangkan exposure lebar/luas mengijinkan lebih banyak cahaya dan memungkinkan fotografer menggunakan shutter speed yang relatif lebih cepat.

Pada saat melakukan perubahan pengaturan, alangkah baiknya Sobat memperhatikan indikator/skala exposure pada viewfinder, indikator ini menunjukkan apakah subyek foto mendapatkan exposure yang pas, atau underexposure atau malah overexposure. Sebagai tambahan Sobat juga bisa merubah pengaturan ISO untuk merubah tingkat exposure.

ISO memberikan kontrol pada tingkat sensitifitas sensor kamera terhadap cahaya. Pemilihan ISO tinggi akan membuat sensor lebih sensitif terhadap cahaya, sedangkan ISO rendah membuat sensor kurang sensitif (jadi butuh lebih banyak cahaya yang diperlukan untuk membuat expsoure yang sama).

Pengaturan ISO memberikan lebih banyak pilihan dalam hal memilih kombinasi shutter speed serta aperture pada sebuah kondisi/situasi pencahayaan. sebagai contoh: Penggunaan ISO tinggi akan memudahkan Sobat ketika memilih aperture kecil dan shutter speed cepat ketika memotret landscape pada kondisi pencahayaan rendah.

 

Jadi apa tujuan adanya mode Manual jika ada mode Otomatis?

Memang benar jika keharusan mengatur aperture dan shutter speed sebelum memotret akan memperlambat kita. Mode manual tidak didesain untuk memotret pada situasi pencahayaan yang sering berubah, karena Sobat akan sering melakukan kompensasi pada setiap perubahan pencahayaan. Kamera menyediakan mode otomatis atau semi otomatis untuk memotret pada kondisi pencahayaan yang sering berubah.

Fakta bahwa aperture dan shutter speed akan tetap sama pada mode Manual bisa dikatakan adalah sebuah keuntungan tersendiri. Mode manual sangat cocok pada subyek yang bergerak selama kondisi pencahayaan tetap konstan, Sobat bisa memilih kombinasi aperture, shutter speed serta ISO untuk sebuah subyek dan memastikan mereka tetapi terekspose secara tepat, meskipun background berubah.

 

Kenapa Background yang berubah bisa mempengaruhi exposure?

Exposure secara normal akan secara otomatis berubah menurut beberapa faktor, seperti kuantitas serta kualitas cahaya, mode metering yang Sobat gunakan, tone yang menyebar pada frame, ukuran subyek terhadap background. Pada beberapa kondisi Sobat mungkin akan menggunakan exposure compensation untuk memastikan hasil foto tidak under atau overexposure

Sebagai contoh: bayangkan Sobat memotret serial foto dari sebuah pesawat yang sedang take-off pada siang hari yang berawan. Exposure secara keseleruhan cenderung netral pada saat pesawan masih berada di landasan, namun ketika pesawat mulai naik, hamparan langit yang cerah cenderung menipu kamera sehingga akan menurunkan tingkat exposure (masih ingat kan bahwa kamera selalu ingin mencoba memberikan hasil exposure mendekati mid-tone).

Hasilnya? Awan putih yang kita lihat akan menjadi abu-abu (grey) dan pesawat akan terlihat semacam siluet. Sobat butuh menggunakan exposure compensation untuk menaikkan tingkat kecerahan  dan mengembalikan detail dari pesawat terbang tersebut.

Dengan menggunakan mode Manual, Sobat bisa mengatur exposure dari awal pemotretan dan memastikan bahwa pesawat memiliki exposure yang akurat.

 

Bukankah saya masih bisa menggunakan tombol Exposure Lock pada kamera?

Yap... Sobat bisa memotret menggunakan Aperture Priority atau Shutter Priority dan menekan tombol Exposure Lock agar menjaga kombinasi aperture, shutter speed serta ISO tetap sama, tatapi bukankah dengan adanya mode Manual bisa menjadi sebuah pilihan atau opsi lain yang patut dipertimbangkan? Menggunakan mode Manual memungkinkan Sobat untuk sedikit melupakan exposure dan fokus terhadap aspek-aspek komposisi yang lebih tricky.

 

Jadi kapan Saya hendaknya menggunakan mode Manual?

Seperti yang sudah Kami sebutkan diatas, mode Manual seringkali cocok ketika Sobat memotret subyek gerak pada pencahayaan konstan/tetap, tetapi Sobat masih bisa menggunakan mode ini pada setiap subyek. Jika sobat masih dalam tahap mempelajari dunia fotografi, maka mode ini sangat cocok untuk digunakan. Mode Manual merupakan alat belajar yang sangat sempurna. Mode ini juga sangat bagus digunakan jika Sobat menggunakan flash, memudahkan Sobat untuk mendapatkan keseimbangan antara cahaya flash serta cahaya yang ada di sekitar subyek foto.

$umb3r
Share:

Flare Lensa Pada Foto

Tips Fotografi - Berikut ini adalah beberapa tips menambahkan efek flare lensa dengan mudah ke dalam foto-foto Sobat InFotografi:
flare
Photo: Anna P

1. Komposisikan sumber cahaya pada tepian/pinggir frame. Sobat bisa menempatkan cahaya di bagian pinggir/tepi komposisi frame kalian atau sedikit diluar tepian frame yang terlihat di viewfinder, cara ini akan menambah peluang terbentuknya flare dan juga meningkatkan jumlah flare.


2. Lepas lens hood kalian. Lens hood didesain untuk mengurangi cahaya yang nyasar masuk ke dalam lensa, jadi fungsi utama perangkat ini adalah memang untuk mengurangi potensi terjadinya flare lensa. Dengan melepas lens hood akan meningkatkan peluang dan jumlah flare lensa di dalam foto-foto kalian.

3. Gunakan lensa wide-angle. Lensa wide dan ultra-wide cenderung lebih mudah menghasilkan flare. Hal ini dikarenakan lensa ini lebih sulit membendung cahaya-cahaya yang nyasar. Kurva lebar optik juga memantulkan cahaya dengan tingkat yang lebih besar, sehingga akan menciptakan lebih banyak flare. Yang perlu diingat adalah: Lensa-lensa wide yang berharga mahal  seringkali memiliki coating optik yang mengurangi terjadinya flare lensa.

4. Gunakan Aperture Lebar (Bilangan kecil). Penggunaan aperture yang lebih lebar berarti mengijinkan lebih banyak cahaya yang masuk ke dalam lensa. Hal ini juga berarti akan ada banyak cahaya membandel yang terpantul diantara elemen-elemen optik lensa sehingga terjad flare. Hal sebaliknya terjadi jika Sobat menggunakan Aperture kecil (bilangan besar), aperture kecil akan memfokuskan arah datangnya cahaya tepat berada di depan sensor dengan pola yang ketat, pengendalian cahaya akan jadi lebih baik, dan pastinya akan mengurangi jumlah cahaya yang mengakibatkan flare lensa.

5. Gunakan lensa-lensa tua atau murah. Film tidak memantulkan cahaya kembali ke lensa, lensa film yang lebih tua biasanya tidak memiliki elemen lapisan (coating) dibagian depan. filter kilap yang berada di depan sensor memantulkan cahaya dan bisa menyebabkan flare. Lensa yang relatif murah kebanyakan memiliki lapisan atau coating yang kurang efektif untuk mengurangi potensi terjadinya flare lensa dibanding lensa-lensa yang relatif lebih mahal.

6. Gunakan filter UV. Filter ini (terutama yang beharga relatif murah) sangat berpotensi menyebabkan flare lensa. Sobat bisa memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan flare pada foto-foto kalian.

Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah: Jika Sobat memang berniat menambahkan efek flare lensa di dalam komposisi foto kalian, maka bersiaplah untuk melakukan post-processing menggunakan perangkat lunak editing gambar. Kenapa? Seperti yang telah Kami sampaikan sebelumnya bahwa foto yang memiliki flare akan cenderung mengalami penurunan kontras dan saturasi warna. Jadi jika Sobat ingin mendapatkan hasil terbaik maka lakukan post-processing.

Pada saat post processing menggunakan software, langkah yang bisa Sobat ambil adalah meningkatkan kontras menggunakan Curves atau Level. Sobat juga bisa menggunakan tool vibrance dan/atau saturation untuk mengangkat warna yang sedikit menghilang.

Jadi tunggu apa lagi Sobat?? Memotretlah dan langgar aturan memotret langsung berhadapan dengan matahari... Selamat Mencoba!!
Share:

Rabu, 27 Maret 2013

MEMAHAMI TENTANG TIPE LENSA DSLR


Banyak dari kita seringkali kebingungan dalam memilih lensa yang sesuai dengan kebutuhan kita. Selain memang beragam jenis lensa yang ada, juga karena harganya cukup mahal sehingga jangan sampai kita salah memilih. Ada baiknya kita memahami kategori lensa terlebih dahulu supaya bisa sesuai dengan kebutuhan dan kegunaannya.



Tipe-tipe Lensa DSLR

Pertama, saya membaginya dalam dua tipe utama, yaitu Prime Lens/Fix Lens dan Zoom Lens.

Prime Lens/Fix Lens

Prime Lens memiliki focal length / panjang fokal tetap, sehingga subyek foto tidak dapat diperbesar atau diperkecil. Kita harus berpindah posisi jika akan mengatur besar kecilnya obyek maupun sudut pandangnya. Lensa jenis ini biasanya mempunyai ukuran lebih kecil daripada zoom lens (perbandingannya tentu dengan focal length / panjang fokal yang setara). Hasil yang diperoleh pun lebih tajam. Prime lens juga memiliki bukaan yang lebar sehingga dapat menghasilkan efek  bokeh/blur yang lebih baik. Beberapa jenis lensa tipe ini antara lain Canon EF 14mm f/2.8 L II USM, Canon EF 28mm f/1.8 USM, Canon EF 35mm f/1.4 L USM, Canon EF 50mm f/1.8 II, NIKON AF 50mm f/1.8D, SIGMA AF 70mm F/2.8 EX DG MACRO, Canon EF 85mm f/1.8 USM, Canon EF 100mm f/2.8 Macro USM, Canon EF 200mm f/2.8L II USM, NIKON AF 135mm f/2D DC, dan masih banyak lagi.

Zoom Lens

Zoom Lens memiliki rentang fokus yang berbeda yang bisa diatur sesuai keinginan kita, jadi kebalikan dengan Prime Lens. Kelebihan Zoom Lens ialah fleksibelitasnya yaitu dengan satu buah lensa kita bisa mendapatkan focal length / panjang fokal yang bervariasi maupun sudut lensa yang bervariasi sehingga kita tidak direpotkan dengan seringnya pindah posisi. Sedangkan kelemahannya adalah ukurannya yang lebih besar dan lebih berat serta dan kualitas ketajaman gambar yang dihasilkan masih dibawah Prime Lens. Beberapa jenis lensa tipe ini antara lain Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5 USM, NIKON AF-S 10-24mm f/3.5-4.5G ED DX, Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM, TOKINA AT-X 16.5-135mm F3.5-5.6 DX, Canon EF 24-70mm f/2.8L II USM, Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS II, Canon EF 70-200mm f/2.8L USM, TAMRON SP 70-300mm F/4-5.6 Di VC USD, dan masih banyak lagi.

Zoom Lens seringkali juga dilengkapi informasi rasio perbesarannya, hanya saja perlu dicermati bahwa perbesaran yang dimaksud adalah rasio focal length / panjang fokal terkecil berbanding focal length / panjang fokal terbesar. Jadi bukan perbesaran gambar dari aktualnya. Misal Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM, rasio perbesarannya adalah 85 : 15 atau 5,6 : 1.



Kedua, saya membaginya dalam 5 sub tipe lensa, yaitu Ultra Wide Lens, Wide Lens, Standard Lens, Tele Lens, dan Super Tele Lens.

Ultra Wide Lens 

Lensa ini memiliki lebar sudut pandang lebih dari 90°. Jika kita lihat dari ukuran panjang fokal lensanya antara 8mm – 20mm. Kebanyakan dipakai untuk foto landscape dan interior.

Wide Lens

Lensa ini memiliki lebar sudut pandang antara  60° sampai dengan 90°. Jika kita lihat dari ukuran panjang fokal lensanya antara 20mm – 35mm. Kebanyakan dipakai untuk foto landscape dan interior.

Standard Lens

Lensa ini memiliki lebar sudut pandang antara  25° sampai dengan 60°. Jika kita lihat dari ukuran panjang fokal lensanya antara 35mm – 105mm. Kebanyakan dipakai untuk foto kegiatan sehari-hari, ada juga yang digunakan untuk foto portrait.

Tele Lens

Lensa ini memiliki lebar sudut pandang antara  10° sampai dengan 25°. Jika kita lihat dari ukuran panjang fokal lensanya antara 105mm – 200mm. Kebanyakan dipakai untuk foto kegiatan olah raga, foto fashion, tapi ada juga yang mengunakan untuk foto portrait.

Super Tele Lens

Lensa ini memiliki lebar sudut pandang kurang dari 10°. Jika kita lihat dari ukuran panjang fokal lensanya lebih dari 200mm. Kebanyakan dipakai untuk foto kegiatan olah raga maupun foto satwa liar.



Ketiga, saya memasukkan dalam sub tipe lensa untuk keperluan khusus, yaitu Macro Lens, Fisheye Lens, Soft Focus Lens, dan Perspective Control Lens. Biasanya, produsen lensa sudah mencantumkan kode khusus untuk lensa tipe ini.

Macro Lens

Lensa makro didisain untuk memfoto benda-benda kecil dan dekat. Dengan demikian lensa makro harus mempunyai jarak fokus yang dekat. Perbandingan obyek foto dengan tangkapan gambar pada sensor atau film biasanya 1:1, yang artinya pada saat fokus dengan jarak sangat dekat dengan subyek foto maka ukuran subyek foto akan sama besar dengan gambar tangkapan pada sensor kamera atau film.

Fisheye Lens

Lensa fisheye adalah lensa yang memiliki wide-angle / sudut lebar yang ekstim. Bahkan ada lensa yang mempunyai sudut pandang sampai 180°. Selain itu, lensa jenis ini juga mempunyai distorsi yang ekstrim pula. Kenapa disebut fisheye, ya karena memang menyerupai mata ikan.

Perspective Control Lens

Lensa ini digunakan untuk architectural photographs. Tidak banyak yang menggunakan tipe lensa ini karena memang terlalu spesifik. Lensa yang termasuk tipe ini salah satunya adalah tilt-shift lens.



Jika kita sudah memahami tipe-tipe lensa DSLR tersebut diatas, kita akan dengan sendirinya mengetahui lensa mana yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Share:

Sabtu, 23 Maret 2013

AGAR FOTO TETAP TAJAM DI MINI

Seringkali obyek menarik datang dalam situasi dimana kita harus memotret dalam kondisi minim cahaya dan kita tidak ingin (atau tidak bisa) menggunakan flash, padahal kita ingin menghasilkan foto yang tetap tajam. Obyek seperti view kota saat malam yang indah, konser musik di malam hari atau suasana pesta sayang dilewatkan begitu saja tanpa kamera beraksi. Berikut adalah tips untuk bisa tetap menghasilkan foto yang optimum:


Tripod atau monopod. Alat yang paling handal dan mudah adalah tripod atau monopod.
Jika tripod tidak tersedia, usahakan agar kamera tetap stabil dengan memanfaatkan lingkungan sekitar,  misalnya dengan menyandarkan badan ke tempok, menyandarkan kamera ke tangga dan lain-lain.

Usahakan untuk menggunakan aperture sebesar mungkin, jika lensa anda memiliki batas aperture terbesar f/2.8, pakailah aperture f/2.8
Jika dua trik diatas belum cukup, naikkan ISO kamera  hingga shutter speed kita mencapai minimal 1/60 (pada beberapa kamera generasi terbaru bisa menggunakan  setting ISO hingga diatas 1000 dan masih bisa menghasilkan foto yang rendah noise)
Saat menggunakan tips ke-4, sebaiknya aktifkan fitur High ISO Noise Reduction di kamera untuk mengurangi noise, atau pilihan kelima berikut lebih baik (dan lebih mahal) yakni:
Atau anda bisa melewati tips ke-5 dengan memakai software noise reduction untuk mengurangi noise pada tahap post production. Software semacam Noise Ninja, Imagenomic Noiseware atau Nik’s Dfine lumayan ampuh menjinakkan noise di hasil akhir foto kita. Jika anda menggunakan Lightroom 4 untuk mengatur koleksi foto, Lightroom memiliki fitur noise reduction yang sangat canggih.
Baca kembali aturan mengenai shutter speed yang optimum: jika anda memakai panjang focal Xmm, sebaiknya shutter speed anda diatas 1/X detik. Lebih detail baca disini.

$umb3r

Share:

TIPS FOTO EFEK STARBURST: MEMBUAT LAMPU AGAR TAMPAK SEPERTI BINTANG




Membuat sumber cahaya malam hari tampak berpendar seperti bintang membuat foto malam kita tampak lebih keren. Efek ini biasanya disebut efek starburst. Untuk membuat starburst, hal mendasar yang harus kita pahami adalah membuat bukaan lensa sekecil mungkin, artinya kita sebaiknya menggunakan angka aperture yang besar (f/11 s.d f/22) dan sebaiknya memanfaatkan lensa yang memiliki focal length lebih pendek.
Kenapa harus seperti itu? well, penjelasannya akan panjang. Singkatnya adalah secara fisika cahaya akan mengalami difraksi (penyebaran) saat melewati lubang sempit (hmm sempit…). Sifat penyebaran cahaya inilah yang membuat sumber cahaya (lampu, bulan, matahari) akan terlihat berpendar dan memiliki lidah, jumlah lidah akan bergantung pada jumlah bilah (blade) aperture dalam lensa anda, lihat spek lensa yang anda miliki, pasti akan ada tertulis “aperture blade”. Sementara untuk menjawab kenapa sebaiknya memilih angka f yang besar dan focal length yang lebih pendk, silahkan baca artikel Memahami Angka Aperture Dalam lensa dan Memahami Aperture.


Kalau masih belum jelas, silahkan lihat gambar berikut ini:



Gambar diatas menunjukkan, semakin kecil bukaan (angka f semakin besar), lidah cahaya akan semakin maksimal. Sementara di angka f yang kecil, sumber cahaya tampak tanpa burst sama sekali.

$umber

Share:

Selasa, 01 Januari 2013

6 TIPS MEMOTRET FOTO PERTUNJUKAN PANGGUNG


Hasrat ingin menghasilkan foto yang apik dari sebuah pertunjukan panggung seringkali pupus karena yang diperoleh justru foto yang blur, terlampau gelap atau terlampau terang. Berikut tips-tips untuk memotret saat Java Jazz. Tips berikut berfungsi umum dan bisa diaplikasikan di berbagai ajang yang serupa.

1. Foto panggung memiliki beberapa tantangan yang harus disiasati, terutama adalah karena pencahayaan yang rendah. Jika memungkinkan gunakan lensa dengan diafragma besar (seperti f/2,8). Dengan shutter yang cepat, maka hasil foto akan tajam tanpa bantuan tripod.

2. Bagi yang menggunakan lensa standar dengan diafragma sekitar f/4 atau f/5,6, gunakan kompensasi cahaya agar foto tidak blur atau buram. Beralihlah ke mode aperture priority dan atur agar kamera merekam dengan bukaan terbesar

3. Selain itu jangan lupa mempersiapkan kompensasi dan menggunakan matrix untuk metering-nya. Untuk latar belakang gelap gunakanlah kompensasi minus. Sebaliknya untuk latar belakang yang terang, gunakan kompensasi plus.

4. Demikian juga halnya dengan ISO dan white balance, sebaiknya menggunakan white balance 5.000 kelvin atau pilih yang bergambar matahari. Dengan kondisi pencahayaan yang berubah-ubah, pilihan white balance tersebut dimaksudkan untuk memberi keleluasaan lebih kepada fotografer untuk mengoreksi hasil jepretan di komputer.

5. Ada baiknya juga menggunakan format RAW sehingga dapat mengoreksi foto yang mungkin terlalu gelap tanpa terlalu merusak foto. Perlu juga diingat bahwa dalam low light photography, seorang fotografer harus menyediakan porsi untuk proses di komputer. Jangan terlampau puas dengan hasil yang muncul di layar LCD kamera karena akan berbeda jika sudah dipindahkan ke komputer.

6. Selain itu, untuk membuat foto pertunjukan yang menarik sebaiknya menunggu sampai ada cahaya kuat pada objek foto dan tunggu momen yang tepat. Ekspresi musisi saat manggung biasanya amat menarik dan bervariasi. Jadi pastikan Anda tetap waspada dan memantau dengan cermat subyek foto Anda.
Di luar tips tersebut di atas, pastikan Anda sudah menguasai dasar fotografi seperti memegang kamera yang benar dan menguasai kamera Anda. Dengan begitu, hasil foto akan lebih maksimal. Selamat mencoba!

Share:

6 TIPS DASAR MEMBUAT FOTO POTRAIT




Fotografi tidak pernah dibatasi oleh alat. Entah itu menggunakan kamera yang canggih ataupun hanya kamera ponsel, Anda tetap dapat menghasilkan foto yang baik jika sudah memahami unsur seni dalam fotografi. Seperti contohnya membuat fotografi portrait. Kegiatan fotografi yang satu ini mungkin yang paling umum dilakukan orang ketika memegang sebuah kamera – karena memang tergolong sangat mudah untuk dilakukan. Nah untuk membuat foto portrait yang lebih baik, berikut kami berikan enam tips sederhana yang dapat Anda coba.
1. Mendekatlah dan berinteraksi dengan model




Photo Credit: Renhard Harjanto
Masalah paling umum ketika membuat foto portrait adalah jarak. Beberapa fotografer pemula atau amatir merasa malu-malu untuk mendekatkan diri pada model. Padahal jika memotret portrait sebatas headshot, pengambilan foto idealnya harus lebih dekat ke model. Namun fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, banyak fotografer pemula yang rela mengeluarkan uang ekstra untuk membeli lensa dengan jangkauan focal panjang untuk memotret subyek dari jarak jauh.
Hal tersebut memang boleh-boleh saja namun tidak terlalu disarankan. Jika Anda ingin menghasilkan foto portrait yang lebih baik, mulailah belajar untuk lebih mendekatkan diri dan berinteraksi dengan model. Berinteraksi dengan model memang terdengar cukup sepele, namun hal tersebut sangat diperlukan untuk mencairkan suasana agar model lebih nyaman dan tidak merasa tegang. Hasilnya, ekspresi model akan lebih rileks dan tidak terlihat kaku sehingga foto portrait yang dihasilkan akan lebih baik dan alami.
2. Perhatikan Komposisi



Photo Credit: A.Murrain
Membuat foto portrait dengan memposisikan kepala model di tengah biasanya malah menghasilkan foto yang kurang menarik. Cobalah untuk menempatkan model pada berbagai posisi sudut pengambilan gambar. Anda bisa menggunakan prinsip “Rule of Third” atau menempatkan subyek pada 1/3 bagian dari frame. Beranilah bereksperimen dengan komposisi dan jangan takut melanggar prinsip “Rule of Third”.
3. Lensa dan Depth Of Field (DoF)



Photo Credit:Chereselskaya Elena
Untuk membuat fotografi portrait, lensa dengan jangkauan focal yang panjang tidaklah mutlak dibutuhkan. Anda bisa mengandalkan beberapa lensa non-zoom jarak pendek seperti 50mm atau lensa zoom dengan jarak rentang zoom menengah seperti 18-55mm. Besaran diafragma lensa juga mempengaruhi foto portrait. Jika lensa yang digunakan memiliki diafragma hingga f/2.0 atau lebih besar, gunakan lensa tersebut pada bukaan diafragma terbesar. Ini akan membuat efek bokeh (background menjadi blur) di belakang subjek dan memberikan unsur artistik pada foto. Hasilnya, model Anda akan terlihat lebih menonjol dari latarnya dan membuat mata yang melihat langsung tertuju pada model tersebut. Anda juga dapat mengatur bukaan lensa pada setting lain untuk bereksperimen.
4. Perhatikan Bahasa Tubuh Model


Bagi para model profesional, bergaya di depan kamera bukanlah hal yang sulit. Dengan sedikit pengarahan gaya, Anda dapat mendapatkan pose yang sesuai dengan keinginan. Nah, bagaimana jika Anda berhadapan dengan model amatir yang belum terbiasa di hadapan kamera?
Caranya cukup mudah, ikuti langkah tips no.1. Setelah berhasil membuat interaksi dan mencairkan suasana dengan model, Anda akan lebih mudah dalam mengarahkan gaya. Perlu diperhatikan juga kebanyakan model-model amatir masih ragu untuk bergaya dan terlihat tidak percaya diri. Untuk itu, Anda sebagai fotografer harus pandai dalam melihat momen ketika mengarahkan model. Terkadang lelucon garing atau kata-kata pujian yang terlontar dari mulut Anda cukup efektif untuk menambah kepercayaan diri sang model.
5. Perhatikan cahaya





Dalam memotret portrait, Anda juga wajib memperhatikan kondisi pencahayaan di sekitar agar bayangan yang jatuh pada model tidak terlalu keras. Untuk itu banyak cara yang dapat dilakukan. Jika Anda memotret di luar ruangan dengan mengandalkan pencahayaan matahari, gunakanlah flash untuk fill-in atau gunakan reflektor untuk memantulkan cahaya ke arah model agar bayangan model terlihat lebih lembut. Pada saat memotret dalam ruangan atau studio, Anda juga dapat memanfaatkan beberapa aksesoris pencahayaan seperti payung studio, softbox, reflektor dan beauty dish untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
6. Mengolah foto untuk hasil lebih sempurna


Photo credit: Sauri
Jika foto portrait yang dihasilkan masih kurang oke, jangan langsung membuangnya. Saat ini telah banyak aplikasi olah foto yang beredar, mulai dari yang sederhana hingga yang memiliki tools lengkap. Lewat aplikasi pengolah foto tersebut, Anda dapat memperbaiki komposisi, mengoreksi warna, hingga mengatur gelap terangnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cepat dan sangat mudah untuk dipelajari.
Enam tips di atas merupakan kumpulan tips sederhana yang dapat diterapkan untuk menghasilkan foto potrait lebih baik. Namun keenam tips tersebut akan percuma saja jika Anda melewatkan satu tips yang paling penting yaitu latihan. Jangan pernah ragu untuk mencoba dan ambillah foto sesering mungkin untuk lebih mengenal dan membiasakan diri dengan kamera Anda. Selamat memotret!!
$umb3r

Share:

MEMBUAT FOTO YANG BERCERITA (FOTO STORY/ESSAY)


Banyak orang bisa menulis, tapi sedikit yang bisa mengarang, banyak orang yang bisa motret, tapi jarang yang bisa membuat foto yang bercerita. Fotografi adalah salah satu media untuk bercerita yang sangat baik. Seringkali, fotografi yang baik dapat menggugah perasaan dibandingkan dengan tulisan semata. Mampu membuat foto yang bercerita merupakan suatu hal yang baik untuk mendapatkan pekerjaan di bidang fotografi terutama fotojurnalisme.

Dalam mengunakan fotografi untuk bercerita, biasanya fotografer mengunakan beberapa foto. Karena jarang satu foto dapat menceritakan satu kisah secara keseluruhan. Setelah foto terpilih, kita dapat menyusun sedemikian rupa sehingga pemirsa dapat melihat inti dan detail dari cerita secara lengkap.

Untuk membuat rangkaian foto bercerita (photo story) yang bagus, kita tidak hanya membutuhkan pengetahuan bagaimana membuat foto yg baik, tapi juga ketrampilan untuk bercerita. Kita membutuhkan ide/topik, membuat perencanaan. Selain itu kita membutuhkan kerjasama antara otak, mata dan hati. Dengan kerjasama antara ketiganya dengan baik, kita bisa mengetahui kapan saat dan dimana saat yang tepat untuk membuat foto.

Seringkali, rangkaian foto tersebut tidak hanya dibuat dalam satu hari saja, tapi berhari-hari di tempat yang berbeda-beda. Jika yang diceritakan melibatkan orang, maka hubungan antara fotografer dengan subjek foto juga harus baik. Sikap yang tidak baik atau kata-kata yang salah bisa menghambat kita untuk mendapatkan foto yang bagus.

Meskipun terdiri dari beberapa foto, tapi rangkaian photo story memiliki benang merah yang mengkaitkan antara satu foto dengan yang lainnya. Mengkaitkan foto bisa melalui subjek foto yang sama, gaya foto atau warna, komposisi, tempat dan topik yang sama.

Ada dua istilah yang sering membingungkan yaitu istilah photo essay dan photo story/picture story

Perbedaan singkatnya adalah:

Photo Essay – menceritakan sebuah kisah, dan biasanya bertujuan sesuatu misalnya mengingatkan pemirsa akan bahaya narkoba, menceritakan pentingnya pelestarian lingkungan dan lain-lain. Foto-foto bisa dibuat di tempat dan dengan subjek foto yang berbeda-beda tapi masih satu topik yang sama.
Photo story/picture story – Bercerita tentang seseorang, tempat atau situasi, ada bagian awal, tengah dan akhirnya. Misalnya cerita tentang kehidupan seorang petani, dokter, dll.
Meskipun foto yang dibuat sebenarnya bebas-bebas saja, tapi untuk pemula atau fotografer yang menyukai struktur, ada beberapa jenis foto yang biasanya ada dalam rangkaian photo story/essay:

Establishing shot : Biasanya menggambarkan tempat/setting tempat kejadian, biasanya mengunakan lensa wide angle untuk memberikan kesan tiga dimensi, tapi terkadang, lensa tele juga digunakan.
Detail shot : Foto detail benda atau bagian dari orang yang penting, misalnya cincin kawin atau close-up air mata / bibir seseorang, biasanya lensa makro atau telefoto digunakan.
Interaction shot : Berisi interaksi dari dua orang atau lebih
Climax : Sebuah foto yang menggambarkan puncak dari sebuah acara
Closer/Clincher : Foto yang menutup cerita. Biasanya meninggalkan kesan, pesan, inspirasi atau motivasi
Lima langkah membuat photo story/essay:

Tentukan topik misalnya cerita kegiatan seseorang selama sehari, atau esai tentang lingkungan hidup yang tercemar
Riset – Cari informasi tentang topik yang dipilih
Rencanakan foto-foto yang akan diambil (pemandangan, karakter/portrait, seni budaya, dll)
Membuat foto di lokasi dan waktu yang telah direncanakan. Biasanya langkah ini yang paling banyak memakan waktu
Editing dan pemilihan foto
Tata letak/layout foto yang dipilih. Semakin penting fotonya semakin besar ukurannya relatif dengan foto yang lain


contoh foto essay . dengan judul NGERTAKEUN BUMI LAMBA
Share:

Kamis, 27 Desember 2012

SEJARAH FOTOGRAFI INDONESIA


Sejarah fotografi di Indonesia dimulai pada tahun 1857, pada saat 2 orang juru foto Woodbury dan Page membuka sebuah studio foto di Harmonie, Batavia. Masuknya fotografi ke Indonesia tepat 18 tahun setelah Daguerre mengumumkan hasil penelitiannya yang kemudian disebut-sebut sebagai awal perkembangan fotografi komersil. Studio fotopun semakin ramai di Batavia. Dan kemudian banyak fotografer professional maupun amatir mendokumentasikan hiruk pikuk dan keragaman etnis di Batavia.



                                                                     Kamera Daguerre

Masuknya fotografi di Indonesia adalah tahun awal dari lahirnya teknologi fotografi, maka kamera yang adapun masih berat dan menggunakan teknologi yang sederhana. Teknologi kamera pada masa itu hanya mampun merekam gambar yang statis. Karena itu kebanyakan foto kota hasil karya Woodbury dan Page terlihat sepi karena belum memungkinkan untuk merekam gambar yang bergerak.
Terkadang fotografer harus menggiring pedagang dan pembelinya ke dalam studio untuk dapat merekam suasana hirup pikuk pusat perbelanjaan. Oleh sebab itu telihat bahwa pedagang dan pembelinya beraktifitas membelakangi sebuah layar. Ini karena teknologi kamera masih sederhana dan masih riskan jika terlalu sering dibawa kemana-mana.
Pada tahun 1900an, muncul penemuan kamera yang lebih sederhana dan mudah untuk dibawa kemana-mana sehingga memungkinkan para fotografer untuk melakukan pemotretan outdoor. Bisa dibilang ini adalah awal munculnya kamera modern.Karena bentuknya yang lebih sederhana, kamera kemudian tidak dimiliki oleh fotografer saja tetapi juga dimiliki oleh masyarakat awam.
Banyak karya-karya fotografer maupun masyarakat awam yang dibuat pada masa awal perkembangan fotografi di Indonesia tersimpan di Museum Sejarah Jakarta. Seperti namanya, museum ini hanya menghadirkan foto-foto kota Jakarta pada jaman penjajahan Belanda saja. Karena memang perkembangan teknologi fotografi belum masuk ke daerah. Salah satu foto yang dipamerkan adalah suasana Pasar Pagi, Glodok, Jakarta pada tahun 1930an. Pada awal dibangun, pasar ini hanya diisi oleh beberapa lapak pedagang saja. Ini berbeda dengan kondisi sekarang dimana Glodok merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.

Kassian Cephas (1844-1912): Yang Pertama, yang Terlupakan
Cephas lahir pada 15 Januari 1845 dari pasangan Kartodrono dan Minah. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah anak angkat dari orang Belanda yang bernama Frederik Bernard Fr. Schalk. Cephas banyak menghabiskan masa kanak-kanaknya di rumah Christina Petronella Steven (siapa). Cephas mulai belajar menjadi fotografer profesional pada tahun 1860-an. Ia sempat magang pada Isidore van Kinsbergen, fotografer yang bekerja di Jawa Tengah sekitar 1863-1875. Tapi berita kematian Cephas di tahun 1912 menyebutkan bahwa ia belajar fotografi kepada seseorang yang bernama Simon Willem Camerik.



                                                                       Kassian Cephas

Kassian Cephas memang bukan tokoh nasional yang dulunya menenteng senjata atau berdiplomasi menentang penjajahan bersama politikus pada zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan. Ia hanyalah seorang fotografer asal Yogyakarta yang eksis di ujung abad ke-19, di mana dunia fotografi masih sangat asing dan tak tersentuh oleh penduduk pribumi kala itu. Nama Kassian Cephas mungkin baru disebut bila foto-foto tentang Sultan Hamengku Buwono VII diangkat sebagai bahan perbincangan.Dulu, Cephas pernah menjadi fotografer khusus Keraton pada masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VII. Karena kedekatannya dengan pihak Keraton, maka ia bisa memotret momen-momen khusus yang hanya diadakan di Keraton pada waktu itu. Hasil karya foto-fotonya itu ada yang dimuat di dalam buku karya Isaac Groneman (seorang dokter yang banyak membuat buku-buku tentang kebudayaan Jawa) dan buku karangan Gerrit Knaap (sejarawan Belanda yang berjudul "Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of the Sultan".


Sultan Hamengku Buwono VII karya Kassian Cephas

Dari foto-fotonya tersebut, bisa dibilang bahwa Cephas telah memotret banyak hal tentang kehidupan di dalam Keraton, mulai dari foto Sultan Hamengku Buwono VII dan keluarganya, bangunan-bangunan sekitar Keraton, upacara Garebeg di alun-alun, iring-iringan benda untuk keperluan upacara, tari-tarian, hingga pemandangan Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Tidak itu saja, bahkan Cephas juga diketahui banyak memotret candi dan bangunan bersejarah lainnya, terutama yang ada di sekitar Yogyakarta. Berkaitan dengan kegiatan Cephas memotret kalangan bangsawan Keraton, ada cerita yang cukup menarik. Zaman dulu, dari sekian banyak penduduk Jawa waktu itu, hanya segelintir saja rakyat yang bisa atau pernah melihat wajah rajanya. Tapi, dengan foto-foto yang dibuat Cephas, maka wajah-wajah raja dan bangsawan bisa dikenali rakyatnya.

Masa-Masa Keemasan Cephas
Cephas pernah terlibat dalam proyek pemotretan untuk penelitian monumen kuno peninggalan zaman Hindu-Jawa, yaitu kompleks Candi Loro Jonggrang di Prambanan, yang dilakukan oleh Archeological Union di Yogyakarta pada tahun 1889-1890. Saat bekerja, Cephas banyak dibantu oleh Sem, anak laki-lakinya yang juga tertarik pada dunia fotografi. Cephas juga membantu memotret untuk lembaga yang sama ketika dasar tersembunyi Candi Borobudur mulai ditemukan. Ada sekitar 300 foto yang dibuat Cephas dalam proyek penggalian itu. Pemerintah Belanda mengalokasikan dana 9.000 gulden untuk penelitian tersebut. Cephas dibayar 10 gulden per lembar fotonya. Ia mengantongi 3.000 gulden (sepertiga dari seluruh uang penelitian), jumlah yang sangat besar untuk ukuran waktu itu.


Beberapa foto seputar candi tersebut dijual Cephas. Alhasil, foto-foto buah karyanya itu menyebar dan terkenal. Ada yang digunakan sebagai suvenir atau oleh-oleh bagi para elite Belanda yang akan pergi ke luar kota atau ke Eropa. Album-album yang berisi foto-foto Sultan dan keluarganya juga kerap diberikan sebagai hadiah untuk pejabat pemerintahan seperti presiden. Hal itu tentunya membuat Cephas dikenal luas oleh masyarakat kelas tinggi, dan memberinya keleluasaan bergaul di lingkungan mereka. Karena kedekatan dengan lingkungan elite itulah sejak tahun 1888 Cephas memulai prosedur untuk mendapatkan status "equivalent to Europeans" (sama dengan orang Eropa) untuk dirinya sendiri dan anak laki-lakinya: Sem dan Fares.

Cephas adalah salah satu dari segelintir pribumi yang waktu itu bisa menikmati keistimewaan-keistimewaan dan penghargaan dari masyarakat elite Eropa di Yogyakarta. Mungkin itu sebabnya karya-karya foto Cephas sarat dengan suasana menyenangkan dan indah. Model-model cantik, tari-tarian, upacara-upacara, arsitektur rumah tempo dulu, dan semua hal yang enak dilihat selalu menjadi sasaran bidik kameranya. Bahkan, rumah dan toko milik orang-orang Belanda, lengkap dengan tuan-tuan dan noni-noni Belanda yang duduk-duduk di teras rumah, juga sering menjadi obyek fotonya.

Sekitar tahun 1863-1875, Cephas sempat magang di sebuah kantor milik Isidore van Kinsbergen, fotografer yang bekerja di Jawa Tengah. Status sebagai fotografer resmi baru ia sandang saat bekerja di Kesultanan Yogyakarta. Sejak menjadi fotografer khusus Kesultanan itulah namanya mulai dikenal hingga ke Eropa.

Terlindas Semangat Revolusi
Meski demikian, dalam khazanah fotografi Indonesia, nama Kassian Cephas tidak seharum nama Mendur bersaudara, yakni Frans Mendur dan Alex Mendur. Mereka berdua adalah fotografer yang dianggap sangat berjasa bagi perjalanan bangsa ini. Merekalah yang mengabadikan momen-momen penting saat Soekarno membacakan proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Karya-karya mereka lebih disorot masyarakat Indonesia karena dianggap kental dengan suasana heroik yang memang pada masa itu sangat dibutuhkan.
Foto-foto monumental karya Mendur Bersaudara, mulai dari foto Bung Tomo yang sedang berpidato dengan semangat berapi-api di bawah payung, foto Jenderal Sudirman yang tak lepas dari tandunya, foto sengitnya pertempuran di Surabaya, hingga foto penyobekan bendera Belanda di Hotel Savoy, menjadi alat perjuangan bangsa dan menjadi bukti sejarah terbentuknya negara ini. Di awal-awal kemerdekaan dan revolusi, tentu saja foto-foto Mendur Bersaudara tadi terus diproduksi oleh penguasa dan pelaku sejarah untuk mengawal semangat bangsa ini. Foto-foto karya mereka dicetak dalam buku-buku sejarah dan menjadi bacaan wajib siswa sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat doktoral.
Sementara foto-foto Cephas yang penyebarannya sangat terbatas lebih cocok masuk ke museum atau dikoleksi oleh orang-orang yang menjadi kliennya atau para kolektor. Kandungan foto karya Cephas dinilai tidak mendukung suasana pergolakan yang tengah berlangsung saat itu. Bahkan foto-fotonya yang menonjolkan tentang keindahan Indonesia, potret raja-raja dan “londo-londo”, serta para bangsawan dipandang sebagai “pro status quo”. Makanya fotonya jarang dilirik.

Perbedaan zamanlah yang membuat foto-foto karya Cephas dan Mendur Bersaudara saling bertolak belakang. Kalau foto karya Mendur Bersaudara memperlihatkan sosok Bung Karno yang hangat, flamboyan, dan penuh semangat kerakyatan, justru foto buatan Cephas menampilkan sosok raja yang dingin, sombong, dan sangat feodal. Bila foto-foto para pejuang wanita yang juga anggota palang merah di kancah pertempuran disuguhkan Mendur Bersaudara, justru foto-foto gadis cantik, manja, dan ayulah yang ditawarkan Cephas. Maka wajar bila foto-foto Mendur Bersaudara dicari dan dilirik orang, sedangkan foto-foto Cephas tenggelam dalam pelukan para kolektor.

Kini Kassian Cephas hanya tinggal kenangan. Foto-foto tentang dirinya pun tersembunyi entah di mana. Hanya ada satu buah foto yang menjadi bukti bahwa ia pernah ada, yakni foto dirinya setelah menerima bintang jasa “Orange-Nassau” dari Ratu Wilhelmina pada tahun 1901

$umb3r

Share:

PDF ( PENDIDIKAN DASAR FOTOGRAFI )


Kata photography berasal dari kata photo yang berarti cahaya dan graph yang berarti gambar. Jadi photography bisa diartikan menggambar/melukis dengan cahaya
mata dari kamera, secara umum menentukan kualitas foto yang dihasilkan lensa memiliki 2 properties penting yaitu panjang fokal dan aperture maksimum.

Field of View (FOV)
tiap lensa memiliki FOV yang lebarnya tergantung dari panjang fokalnya dan luas film/sensor yang digunakan.

Field of View Crop
sering disebut secara salah kaprah dengan focal length multiplier. Hampir semua kamera digital memiliki ukuran sensor yang lebih kecil daripada film 35mm, maka pada field of view kamera digital lebih kecil dari pada kamera 35mm. Misal lensa 50 mm pada Nikon D70 memiliki FOV yang sama dengan lensa 75mm pada kamera film 35mm (FOV crop factor 1.5x)

Jenis-jenis Lensa
a. berdasarkan prime-vario
1. Fixed focal/Prime, memiliki panjang fokal tetap, misal Fujinon 35mm F/3.5 memiliki panjang fokal 35 mm. Lensa prime kurang fleksibel, namun kualitasnya lebih tinggi daripada lensa zoom pada harga yang sama
2. Zoom/Vario, memiliki panjang fokal yang dapat diubah, misal Canon EF-S 18-55mm F/3.5-5.6 memiliki panjang fokal yang dapat diubah dari 18 mm sampai 55 mm. Fleksibel karena panjang fokalnya yang dapat diatur

b. berdasarkan panjang focal
1. Wide, lensa dengan FOV lebar, panjang fokal 35 mm atau kurang. Biasanya digunakan untuk memotret pemandangan dan gedung
2. Normal, panjang fokal sekitar 50 mm. Lensa serbaguna, cepat dan harganya murah
3. Tele, lensa dengan FOV sempit, panjang fokal 70mm atau lebih. Untuk memotret dari jarak jauh

c. berdasarkan aperture maksimumnya
1. Cepat, memiliki aperture maksimum yang lebar
2. Lambat, memiliki aperture maksimum sempit

d. lensa-lensa khusus
1. Lensa Makro, digunakan untuk memotret dari jarak dekat
2. Lensa Tilt and Shift, bisa dibengkokan

Ketentuan lensa lebar/tele (berdasarkan panjang focal) di atas berlaku untuk kamera film 35mm. Lensa Nikkor 50 mm menjadi lensa normal pada kamera film 35mm, tapi menjadi lensa tele jika digunakan pada kamera digital Nikon D70. Pada Nikon D70 FOV Nikkor 50 mm setara dengan FOV lensa 75 mm pada kamera film 35mm

Peralatan bantu lain
- Tripod , diperlukan untuk pemotretan dengan kecepatan lambat. Pada kecepatan lambat, menghindari goyangan kamera jika dipegang dengan tangan (handheld). Secara umum kecepatan minimal handhel adalah 1/focal.
Membawa tripod saat hunting bisa merepotkan. Untuk keperluan hunting biasanya tripod yang dibawa adalah tripod yang ringan dan kecil.
- Monopod , mirip tripod, kaki satu. Lebih mudah dibawa. Hanya dapat menghilangkan goyangan vertikal saja.
- Flash/blitz/lampu kilat , untuk menerangai obyek dalam kondisi gelap
- Filter , untuk menyaring cahaya yang masuk. Ada banyak jenisnya :
UV, menyaring cahaya UV agar tidak terjadi hazy pada foto2 landscape, sering digunakan untuk melindungi lensa dari debu.
PL/CPL (Polarizer/Circular Polarizar) untuk mengurangi bayangan pada permukaan non logam. Bisa juga untuk menambah kontras langit

Exposure

jumlah cahaya yang masuk ke kamera, tergantung dari aperture dan kecepatan.
- Aperture/diafragma . Makin besar aperture makin banyak cahaya yang masuk. Aperture dinyatakan dengan angka angka antara lain sebagai berikut: f/1,4 f/2 f/3,5 f/5.6 f/8. semakin besar angkanya (f number), aperture makin kecil aperturenya
- Shutter speed/kecepatan rana . Makin cepat, makin sedikit cahaya yang masuk
- ISO , menyatakan sensitivitas sensor/film. Makin tinggi ISOnya maka jumlah cahaya yang dibutuhkan makin sedikit. Film ISO 100 memerlukan jumlah cahaya 2 kali film ISO 200
Contoh: kombinasi diafragma f/5.6 kec. 1/500 pada ISO 100 setara dengan diafragma f/8 kec 1/500 atau f/5.6 kec. 1/1000 pada ISO 200.

Exposure meter , pengukur cahaya. Hampir tiap kamera modern memiliki pengukur cahaya internal. Selain itu juga tersedia pengukur cahaya eksternal

Exposure metering ( sering disingkat dengan metering )
adalah metode pengukuran cahaya
1. Average metering , mengukur cahaya rata-rata seluruh frame
2. Center-weighted average metering , mengukur cahaya rata-rata dengan titik berat bagian tengah
3. Matrix/Evaluative metering , Mengukur cahaya di berbagai bagian dari frame, untuk kemudian dikalkulasi dengan metode-metode otomatis tertentu
4. Spot metering , mengukur cahaya hanya pada bagian kecil di tengah frame saja

Exposure compensation, 18% grey . Exposure meter selalu mengukur cahaya dan menhasilkan pengukuran sehingga terang foto yang dihasilkan berkisar pada 18% grey. Jadi kalau kita membidik sebidang kain putih dan menggunakan seting exposure sebagaimana yang ditunjukan oleh meter, maka kain putih tersebut akan menjadi abu-abu dalam foto. Untuk mengatasi hal tersebut kita harus melakukan exposure compensation. Exposure kita tambah sehingga kain menjadi putih.

Under exposured = foto terlalu gelap karena kurang exposure
Over exposured = foto terlalu terang karena kelebihan exposure

Istilah stop
Naik 1 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 2 kali.
Naik 2 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 4 kali.
Turun 1 stop exposure diturunkan menjadi 1/2 kali.
Turun 2 stop exposure diturunkan menjadi 1/4 kali.

Kenaikan 1 stop pada aperture sebagai berikut: f/22; f/16; f/11; f/8; f/5,6; f/4; f/2,8; f/2.
Beda f number tiap stop adalah 0,7 kali (1/ akar2).

Kenaikan 1 stop pada kec. Rana sebagai berikut: 1/2000; 1/1000; 1/500; 1/250; 1/125; 1/60; 1/30; 1/15; 1/8; 1/4; 1/2; 1.
Beda speed tiap stop adalah 2 kali

DOF , Depth of Field, kedalaman medan. DOF adalah daerah tajam di sekitar fokus.
Kedalaman medan dipengaruhi oleh besar aperture, panjang fokal, dan jarak ke obyek.
1. Aperture, semakin besar aperture (f number makin kecil) maka DOF akan makin dangkal/sempit
2. Panjang fokal (riil), semakin panjang fokal, DOF makin dangkal/sempit
3. Jarak ke obyek, semakin dekat jarak ke obyek maka DOF makin dangkal/sempit

Pemilihan DOF
- Jika DOF sempit, FG dan BG akan blur. DOF sempit digunakan jika kita ingin mengisolasi/menonjolkan obyek dari lingkungan sekitarnya misalnya pada foto-foto portrait atau foto bunga.
- Jika DOF lebar, FG dan BG tampak lebih tajam. DOF lebar digunakan jika kita menginginkan hampir seluruh bagian pada foto nampak tajam, seperti pada foto landscape atau foto jurnalistik.

Shooting mode
Mode auto , mode point and shoot, tinggal bidik dan jepret
1. Full auto, kamera yang menentukan semua parameter
2. Portrait, kamera menggunakan aperture terbesar untuk menyempitkan DOF
3. Landscape, kamera menggunakan aperture terkecil
4. Nightscene, menggunakan kecepatan lambat dan flash untuk menangkap obyek dan BG sekaligus
5. Fast shuter speed
6. Slow shutter speed

Creative zone
1. P, program AE. Mirip dengan mode auto dengan kontrol lebih. Dengan mode ini kita bisa mengontrol exposure compensation, ISO, metering mode, Auto/manual fokus, white balance, flash on/off, dan continues shooting.
2. Tv, shutter speed priority AE. Kita menetukan speed, kamera akan menghitung aperture yang tepat
3. Av, aperture priority AE. Kita menentukan aperture, kamera mengatur speed
4. M, manual exposure. Kita yang menentukan aperture dan speed secara manual

Komposisi dan Angle
Komposisi adalah penempatan obyek dalam frame foto
Angle adalah sudut pemotretan, dari bawah, atas, atau sejajar
Komposisi dan angle lebih menyangkut ke seni dari fotografi. Faktor selera fotografer sangat besar pengaruhnya.
Share:

CARA MEMBUAT EXPOSURE PADA FOTO





EKSPOSURE
Didalam sebuah kamera selalu gelap, ketika sebuah foto diambil maka cahaya dari luar akan masuk dan menerangi film atau sensor, saat itulah direkam kedalam film atau sensor. Konsep ini berlaku sama untuk fotografi film maupun digital. "Exposure berarti mengukur dan menyeimbangkan cahaya" Terlalu banyak cahaya yang masuk menyebabkan foto akan terlalu terang, begitu pula jika kekurangan cahaya maka foto terlalu gelap, sebuah foto yang baik tergantung setting yang memberikan "right exposure" kepada film atau sensor.

Seorang fotografer dapat mengatur jumlah cahaya yang masuk dengan mengatur shutter speed, aperture dan film speed(ISO/ASA)


Mengukur cahaya dan Menyeimbangkan cahaya. Mengukur cahaya berarti memberikan ukuran cahaya yang tepat kepada film atau sensor, sehingga sebuah foto menghasilkan gambar seperti aslinya, sedangkan menyeimbangkan cahaya lebih kepada mengatur keseimbangan cahaya yang ditangkap agar menghasilkan gambar yang baik, bisa saja sebuah foto tidak seperti aslinya tetapi memiliki keindahan. Stop: sebuah unit ukuran exposure Stop adalah sebuah unit ukuran relatif untuk cahaya, mengambarkan tingkat terangnya sebuah cahaya.


contoh dibawah ini : mengandakan jumlah lampu berarti menambahkan satu stop (+1 Stop) , dan mengurangi setengah jumlah lampu berarti mengurangi satu stop (-1 Stop) Stop dapat saling mengantikan Dalam kamera kita Aperture(f), Speed(S), dan film setting(film speed/ISO) semuanya dibagi menjadi stop, walaupun sistem angkanya berbeda. Sebagai contoh jika kita menganggap setting S : 1/125 A: 5.6 ISO : 100


Adalah setting normal, maka kita dapat menggunakan setting lain untuk mendapatkan foto dengan terang yang sama, misalnya: S:1/30 (naik 2 stop dari S:1/125) f:11 (turun 2 stop dari f5.6) ISO:100 atau S:1/125 f:11 (turun 2 stop dari f5.6) ISO:400(naik 2 stop dari ISO 100) atau S:1/8 (naik 4 stop dari s:1/125) f:16 ( turun 3 stop dari f5.6) ISO:50 (turun 1 stop dari ISO 100)


lihatlah jumlah stop turun dan stop naiknya saling melengkapi) artinya exposure value nya tetap sama tetapi tentu saja, ada pengaruh di image yang dihasilkan akibat perbedaan aperture, speed, dan film speed(ISO)
Share:

Selasa, 04 Desember 2012

KOMPOSISI VISUAL


Komposisi adalah penataan atau peletakan gambar, agar ruang atau gambar itu akan lebih baik dan indah untuk dilihat, komposisi ada batasannya yaitu ( freme )

1.   1.    Menentukan objek ruang
Rule of third
Dimensi ruang pandang


2. Skala perbandingan


3.    Keseimbangan dan proporsi


4.   Susunan diagonal, membuat foto membentuk diagonal tanpa merubah kamera

5.   Kurva ketika kita melihat lengkungan agar menjadi menarik


6.   Angle
-                                           Bert angle
-                                           Higt angle
-                                          Eye angle
-                                          Low angle
-                                         Frog angle




 

Share:

Selasa, 28 Agustus 2012

SAMSUNG AKAN MENGELUARKAN KAMERA ANDROID





BERLIN - Kesuksesan Android bukan hanya mempengaruhi pasar smartphone, tapi juga terjadi di lingkungan kamera. Bukan hanya produsen kamera seperi Nikon yang kepincut Android, bahkan Samsung juga dikabarkan akan mengumumkan kamera digital yang didukung sistem operasi besutan Google tersebut.

Dilansir dari Mashable, Selasa (28/8/2012), perusahaan asal Korea Selatan itu dikabarkan berencana meluncurkan anggota baru lini produk Galaxy yang merupakan sebuah kamera digital pada pekan ini. Samsung akan memulai debut baru kamera pintar Android itu di IFA, sebuah pameran perdagangan elektronik di Berlin.

Kamera yang hadir dengan Android 4.0 (Ice Cream Sandwich) itu dikabarkan akan memiliki sensor 16 megapiksel dan layar 4,8 inci. Kamera tersebut kabarnya akan terhubung dengan koneksi selular agar pengguna bisa mengunggah foto ke jejaring sosial seperti Facebook dan Instagram.

Seperti yang telah disebutkan, Samsung bukanlah satu-satunya perusahaan yang tertarik menjadikan Android sebagai sistem operasi kamera. Sebelumnya, Nikon bahkan sudah mengumumkan kamera besutannya yang dilengkapi Andoid yakni S800c.

Perbedaannya, kamera Nikon menggunakan versi Android yang lebih lawas yakni Android 2.3 (Gingerbread). Meski begitu, kamera Nikon akan memiliki akses ke Google Play, sehingga bisa menjalankan aplikasi yang kompatibel dengan sistem operasinya. Kamera tersebut rencananya akan tersedia pada September mendatang.

Selain Samsung dan Nikon, Polaroid telah lebih dulu meluncurkan kamera Android di  ajang Consumer Electronics Show pada Januari lalu. Tapi sampai saat ini belum ada tanggap rilis resmi yang beredar.


$umb3r
Share:

Sabtu, 25 Agustus 2012

ALAT YANG DIBUTUHKAN UNTUK PROSES CETAK MANUAL

alat yg di butuh kan untuk proses cetak manual

1. kamar gelap
sebuah kamar yg kedap cahaya.sedikit saja cahaya mampu menembus kamar gelap kita, akan mempengaruhi hasil. agar bener2 kedap lapisilah seluruh ruangan dengan kertas hitam.jangan lupa pasang exhause karna obat2 an cuci cetak adalah racun.

2. enlarger set
yaitu sebuah proyektor khusus untuk mencetak foto, dimana alat tersebut di gunakan untuk membakar kertas foto dengan cahaya. cahaya dari enlarger akan diproyeksikan film ke arah kertas foto,sehingga gambar dalam film yg tertembus cahaya akan tercetak di kertas foto tersebut.

3. wadah plastik 3 buah
wadah yg digunakan bisa dari apa saja yg penting ukuran wadah mampu untuk merendam seluruh kertas foto.gunakan yg berbahan plastik agar obat2 an tidak bereaksi secara kimia.

4. tabung cuci film
alat tersebut berbentuk tabung dan kedap cahaya.sudah dilengkapi dengan rel khusus yg didesain untuk film,agar film yg di rendam tidak saling menempel(maaf ga ada fofotnya)

5. penjepit
untuk mengangkat film dari wadah setelah perendaman agar tangan kita tidak perlu menyentuh obat2 an

6. termometer
7. es batu
8. air bersih
9. jepitan baju
10. obat2an cetak foto yg terdiri dari developer dan fixer
cari di toko cetak foto biasanya ada.dari yg murah ampe yg ecek2
tapi untuk sekarang sudah sulit mencarinya




langkah selanjutnya setelah semua alat tersedia:

1. larutkan developer dan fixer dengan air bersih sesuai kebutuhan.jangan dicampur.pisahkan wadahnya atara kedua obat tersebut.baca aturan pakai yg tertera di wadah.masing2 obat beda aturan pakainya.ikuti saja yg tertulis di wadah nya masing2.

untuk newbie sebaiknya jangan bikin aturan sendiri coz untuk melakukan percobaan harus hapal karakter dari obat yg kita beli.so ikutin aja aturannya.

2. masukan developer ke dalam tabung cuci film. sampai kira2 seluruh film terendam semua.kemudian rendam tabung tersebut di dalam wadah yg sudah diberi es batu untuk mendapatkan suhu developer menjadi kurang lebih 4derajat C, sebab untuk mendapatkan hasil cuci film terbaik, suhu developer harus kurang elbih 4 derajat C .letakkan termoeter untuk mengecek suhu developer.fixer tidak perlu didinginkan

3. sembari menungu suhu developer turun, kita siapkan filmnya.keluarkan film dari roll film sedikit saja.asal cukup untuk di pegang.umumnya, ketika kita menggulung film setelah selesai memotret, di gulung sampai habis dan seluruh film masuk dalam roll.cara mengeluaarkan film dari roll yaitu bisa di buka langsung tutup atasnya di dalam kamar gelap.atau dengan mencabut keluar

untuk mencabut keluar, kita butuh film bekas sepanjang kurang lebih 20 cm panjangnya.
masukan filem bekas tersebut ke dalam roll film.kemudian gulung film nya dengan memutar pin yg ada di bagian film.
untuk memutar pun gak sembarangan.pastikan arah putaran searah dengan arah gulungan film dalam roll.setelah film bekas tersebut mau ikut tergulung, gulung terus sampai habis,tapi sisakan sedikit untuk mencabut.nah cabut dengan cepat film bekas tersebut, en wala,... film dalam roll akan ikut tercabut.

pilih cara yg paling gampang.en kalo aku prefer dengan mencabut.

4. nah fase selanjutnya kita harus masuk kamar gelap.gulung film ke rel yg ada di tabung.
dalam hal ini kemampuan tangan mutlak diperlukan coz kita ga bisa melihat nya.jadi di butuhkan keahlian khusus juga.latihan aja pasti bisa.setelah selesai, masukan rel yg sudah terpasang filmnya ke dalam tabung.

5. masukan developer yg sudah bersuhu 4 derajat.
rendam film dengan developer selama satu menit, kemudian lagukan agitasi, yaitu membalik-balik tabung dengan persaan selama satu menit agar obat terkocok di dalam tabung.
setelah itu biarkan lagi satu menit,kemudian agitasi lagi semenit.lakukan terus sampai waktu yg diperlukan.

nah berapa waktu yg di perlukan tergantung merk film.lihat aja di dos filmnya, disitu tertulis brapa lama kita melakukan proses cuci tersebut.

6. setelah agitasi selesai, keluarkan developer ganti dengan larutan fixer.rendam film dengan fixer kurang lebih 20 menit.cetelah itu film sudah boleh terkena cahaya.kemudian keluarkan film, cuci dengan air bersih.yang paling bagus, cuci pada air mengalir.setelah film bersih dari obat, yg di tandai dengan permukaan film yg keset waktu di gosok, gantung film sampai kering.

proses cuci selesai





sket enlarger dan proses

lanjut lagi ke proses cetak

1 setelah film kering, kembali masuk ke ruang gelap

2. nah film yg sudah kering letakkan di penjepit film yg letaknya di atas lensa enlarger,.. liat gambar aja.disitu emang udah ada tempatnya

3. kemudian siapkan obat2nya, obat obatan yg di gunakan masih sama, yaitu developer dan fixer.
taruh kedua obat tersebut di cawan plastik yg sudah disiapkan.masukan obat setinggi kira2 1 cm.

4. pada enlarger terdapat filter safety lamp.fungsinya adalah meredusi cahaya agar kertas foto tidak terbakar.nah letakkan kertas foto pada papan yg tersedia (liat aja gambarnya)



nyalakan enlarger,jangan lupa pasang filter nya agar kertas foto tidak terbakar.nah setel besar kecil cahayanya agar foto yg akan di cetak masuk ke dalam kertas foto tersebut.atur fokusnya, kemudian buatlah tes print untuk mengetahui berapa waktu pembakaran kertas yg di perlukan.caranya foto yg terpasang ditutup dengan kertas atau apapun yg kedap cahaya. kemudian nyalakan enlarger, kemudian geser kertas penutup sampai kira2 kertas terbuka 2 cm,bakar kertas kira2 3detik.sehingga waktu pembakaran kertas 3 detik.geser 2 cm lagi bakar lagi selama 3 detik, seperti itu terus dengan interval 3 detik.(liat gambar)





maka kertas akan terbakar dengan waktu yg berbeda

5. kemudian kertas yg sudah terbakar, masukan kedalam larutan developer.rendam dalam developer.cara merendam dengan memasukan ke dalam wadah, kemudian goyang2 kan wadah sehingga developer mengalir di atas kertas foto.
lakukan terus selama yg di butuhkan.
waktu yg diperlukan ada aturannya,... BigGrin.gif, dan masing2 merk berbeda waktunya BigGrin.gif
kembali liat ke wadahnya. di situ tertera berapa waktu yg di perlukan.

6. setelah selesai dengan developer, rendam dalam larutan fixer.selama 2 s/d 5 menit, sebetulnya semakin lama semakin bagus.jangan terlalu cepat karna, bila waktunya terlalu cepat, kertas akan gampang kuning.
ini terbukti kalo temen2 biasa mencetak foto di tukang cetak kilat 5 menit, yg biasa di pinggir jalan.foto akan cepat kuning.hal ini karna waktu rendaman di fixer kurang lama.ga mungkin cetak foto selama 5 menit.waktu rendaman di fixer aja paling tidak 5 menit.

nah setelah selesai dengan fixer masukan ke air bersih.kemudian foto sudah bisa terkena cahaya.
hasilnya akan seperti di gambar





tes print selesai.

 langkah selanjutnya

1. perhatikan tes print,... BigGrin.gif (modelnya oke juga ya ,..narsis mode=ON)
kemudian pilih bagian yg dianggap paling sempurna terbakar. anggap lah garis ke 4.karna interval tes print 3 detik maka waktu yg diperlukan untuk pembakaran adalah 3 detik dikali 4(garis keempat) sma dengan 12 detik

jadi waktu yg tepat adalah 12 detik.

2. nah pasang kertas yg baru yg akan di cetak,... lakukan urutan seperti pada waktu tes print. bedanya bakar seluruh kertas dengan waktu 12 detik.

3. urutan selanjutnya sama persis seperti diatas

proses cetak selesai
kalo bingung silakan tanya.selama saya bisa dengan senang hati saya share

Share:

CETAK FOTO SENDIRI ............ SIAPA TAKUT..........

Cetak foto sendiri...... siapa takut?


Mencetak foto adalah tahap ketiga atau yg terakhir dari 3 tahapan membuat foto dari film negatif, mulai dari proses memotret dgn kamera, lalu mencuci film negatif dan terakhir mencetak film negatif itu diatas kertas foto.

Proses pencetakan ini agak lebih repot dibandingkan dgn proses 'pencucian' film negatif nya, karena disini dibutuhkan kamar gelap dan alat pembesar foto (enlarger) plus peralatan kamar gelap lainnya. Tapi yg utama adalah tersedianya enlarger dan kamar gelap nya itu sendiri, sedang alat2 dan bahan2 lain (larutan developer kertas dan kertas film itu sendiri) bisa diadakan dgn lebih mudah.

'Kamar gelap' bisa dibuat dari kamar mandi atau kamar tidur yg tertutup rapat, atau setidaknya bisa gelap kalau malam (gw adanya yg ini..hehehe... malem doang bisa gelap). Yg jelas ruangan itu harus bagus ventilasi udaranya spy kita nyaman berlama2 di dalamnya... syukur2 bisa pake AC, spy mengurangi debu yg masuk.

Enlarger... hmmm...ini barang susah2 gampang carinya, kalo pas ada yg jual bekas ya untung.. kalo harus beli yg baru ya agak mahal (sekitar 1jt rupiah). Sebenarnya bisa saja kalo mau bikin sendiri dgn modal lampu pijar dan kaca pembesar, tapi tentu hasilnya juga gak optimal. Jadi kalo pas ada yg jual, usahakan ambil aja ...

Spt enlarge gw yg ini, merknya Durst M30, gw dapet di fjb juga ... khusus buat BW tp bisa dipakaiin filter warna buat efek. Dan yg gw seneng enlarger ini bisa dipake buat slide copier, jd kadang gw pake buat copy negatif pake dslr krn belon punya scanner film

Untuk tempat alas yg 'memegang' kertas foto saat disinari kita perlu alat yg namanya Easel, difoto di atas itu barangnya yg spt pigura dari besi warna hitam di bawah enlarger. Biasanya sih kalo beli enlarger kita juga dapet easelnya, tp kalo gak ada bisa kita bikin dari karton tebel, atau dari plat aluminium atau apa aja ... yg penting dia bisa memegang pinggiran kertas (-/+ 5 mm), shg memudahkan utk penyinaran, krn biasanya tahap fokusing dan komposisi kita atur sebelum kertas dipasang dgn perpedoman pada easel ini. Baru setelah tepat, kertas kita selipkan di bawah penjepit easel ini, kemudian kita sinari dengan waktu yg tertentu. Ukuran easel bisa kita bikin sesuai ukuran kertas yg kita pakai, bisa 2R, 3R, 10R atau berapa saja.... (di foto di atas itu gw bikin buat yg ukuran 2R pake kertas foto bekas yg pinggirannya ditempelin pake lakban kuning).

kalo ini, red light nya, dibikin dari lampu jepit di kasih bohlam merah 15watt plus tas plastik merah ditempel pake selotip. Kamar gelapnya sendiri, gw pake kamar belajar yg pake gorden agak tebel, jadi baru kalo malem bisa jadi kamar gelep nya.


Kalo ini 'wet area' nya, pake 3 nampan buat developer, stopbath sama fixer. Ditambah satu ember bekas kentucky buat tempat bilas akhir. Buat penjepit kertas, gw pake jepitan buat ngerol rambut (warna kuning) yg kedua kakinya gw sarungin pake selang kecil (bekas airpump aquarium ) biar gak licin waktu ngejepit kertas ....

Untuk developer kertas, gw masih pake yg murmer, Superbrome dilarutkan jadi 1 liter larutan simpan, kalo mo dipake di encerkan lagi pake air 2 bagian (jadi misal ambil 100 ml larutan simpan, trus tambahin air 200 ml lagi). Stopbath dan fixer nya sama spt yg dipakai pada proses pencucian film, yaitu stopbath dari cuka dapur 30 mm dilarutkan jadi 1 liter larutan dan Acifix 1 bungkus jadi 1 liter larutan. Semua larutan ini dipakai dalam jumlah yg secukupny aja asal kertas kita bisa terendam scr merata, jadi jangan pake baki yg terlalu besar kalo kertasnya kecil biar hemat.... dan jangan pake nampan kecil kalo kertasnya gede, krn kertasnya gak cukup masuk nampan nya...hehehe.....

Proses pencetakannya sama seperti proses pembuatan negatif dan pencucian film. Pertama pasang negatif film kita di negative holder nya enlarger, nyalain lampu enlargernya ntar keliatan gambar negatif di easel nya....

Trus kita atur fokus biar jelas gambarnya, sekalian komposisi nya diatur.. kalo mo di croping atur aja tinggi rendah enlargernya trus ambil bagian mana yg mau kita cetak dikertas. Kalo perlu, atur bukaan lensa enlargernya biar gambar nya lebih tajem dan sinarnya gak terlalu terang / gelap.


Kalo udah OK, matiin lampu enlargernya, ambil kertas dan selipin di easel, ati2 jangan bergeser easelnya krn komposisi yg udah kita atur tadi bisa berubah. Kalau kertas udah terpasah dgn baik dan benar (awas kebalik !!), nyalain lagi lampu enlargernya... kasih sinar si kertas itu sekitart 5 sampai 10 detik. Makin lama kita sinari kertasnya, gambarnya bakal makin gelap dan kontrasnya turun, jadi dicoba2 aja..cari waktu yg pas biar gak terlalu 'gosong' dan kontrasnya cukup.

Setelah disinari, matiin lampu enlarger, ambil kertas yg udah disinari dan masukin ke baki developer..... pastikan semua permukaannya terendam cairan, gw biasa masukin kertasnya terbalik trus di teken2 biar yakin semua terkena cairan. Goyang2 dikit bakinya atau dorong2 kertasnya biar timbul gambarnya lebih cepet. Kalo perlu bolak balik kertasnya spt menggoreng telor...hehehe...

Kalo udah keluar gambar nya dan cukup kehitamannya, angkat trus masukin ke baki stopbath,...celup sekiar 1menitan..angkat lagi...kalo ada baki bilasannya, bilas dulu sebelum masuk ke baki fixer. Di baki fixer, goyang2 lagi sekitar 5-10 menit biar sisa2 perak halida dikertas yg gak terdevelop terlarut semua.

Udah gitu, angkat...cuci di air mengalir....tiriskan dan keringkan.....lalu hidangkan panas2..hehehe.... selesai sudah.

Kalo belon ada enlargernya, bikin kontak print aja dulu.... beberapa lembar negatif film di tempel langsung di atas kertas photo, ditekan pake kaca (spt di pigura gitu lho..) trus sinari pake lampu meja dan di develop spt biasa. Nanti hasilnya cetakan di kertas seukuran negatif kita....bagus biar menilai negatif nya lebih gampang krn gambarnya udah jadi gambar positif.

Nahh... gak ribet2 amat khan, dari pada boros tinta printer buat cetak foto, mendingan nyoba cara klasik yg satu ini....hehehe... agak ribet tapi lebih puas jadinya... (buat gw sih...)

*** Buat yg suka main2 di kamar gelap, monggo kumpul2 di thread yg satu ini buat berbagi pengalaman dan trik2 soal kamar gelap, khususnya buat film hitam putih.

$umb3r
Share:

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.